Saat masih muda,
Imam Junaid al-Baghdadi memiliki badan yang kekar dan menunjang hidupnya dengan mata pencaharian sebagai pegulat profesional.
Dan seperti biasa, setiap tahun diadakan kontes gulat oleh Penguasa Baghdad.
"Hari ini, Junaid al-Baghdadi (juara bertahan) akan menunjukkan keahliannya sebagai pegulat.
Hari ini, Apakah ada orang yang berani menantangnya?"
Seorang pria tua, berdiri dengan leher gemetar dan berkata :
"Aku akan ikut kontes ini dan menantang dia."
Siapapun yang menyaksikan adegan ini tidak bisa menahan diri, mereka senua tertawa dan bertepuk tangan.
Raja terikat oleh hukum.
Dia tidak bisa menghentikan seseorang yang ingin memasuki pertarungan.
Orang tua itu diberi izin untuk memasuki ring.
Ia berusia sekitar 65 tahun.
Ketika sang juara bertahan, (Junaid al-Baghdadi) memasuki ring, ia tercengang seperti Raja dan semua penonton yang hadir.
Semua memiliki pikiran yang sama,
"Bagaimana mungkin orang tua ini mampu melawan dan menang?"
Orang tua itu berjabat tangan dengan Imam Junaid dan dengan suara lirih berkata :
"Pinjamkan aku telinga Anda."
(Dengarkan kata-kataku) Ia kemudian berbisik:
"Aku tahu, Aku tidak mungkin memenangkan pertarungan ini.
Aku adalah seorang Sayyid, keturunan Nabi Muhammad.
Anak-anakku sedang kelaparan dirumah.
Apakah Anda siap untuk mengorbankan nama Anda, Kehormatan dan Posisi Anda untuk cinta pada Nabi Allah dan kehilangan pertarungan ini demi aku?
Jika Anda melakukan hal ini aku bisa mengumpulkan uang hadiahnya dan dengan demikian aku bisa memberi makan anak-anakku selama satu tahun penuh.
Dan aku akan menyelesaikan pembayaran semua hutangku.
Dan yang lebih penting lagi, Rasulullah akan senang/ridha dengan Anda.
Apakah Anda bersedia mengorbankan kehormatan Anda demi anak-anak Rasulullah ﷺ ?"
Junaid al-Baghdadi berpikir sejenak dan berkata:
"Hari ini, aku memiliki kesempatan yang sangat baik."
Dengan tampilan yang bersemangat, Junaid al-Baghdadi menunjukkan kelihaiannya, menunjukkan kemahiran bergulatnya, sehingga Raja tidak menduga ada persekongkolan yang disepakati.
Junaid dengan kemahiran yang luar biasa, tidak mempergunakan kekuatannya sehingga membuat dirinya sendiri terjatuh, ditindihi orang tua itu.
Dan dengan rendah hati, Junaid memproklamirkan kekalahannya, Sehingga ia pun memberikan hak kepada orang tua itu sebagai pemenang dan meraih hadiahnya.
Malamnya,
Junaid al-Baghdadi mimpi bertemu Nabi Muhammad ﷺ yang
mengatakan:
"Duhai Junaid, Kamu telah mengorbankan kehormatanmu, ketenaranmu yang telah diakui seluruh negeri.
Nama dan posisi yang digembar-gemborkan di seluruh penjuru Baghdad, bertukar demi ekspresi cintamu untuk anak-anakku yang kelaparan.
Pada hari ini dan seterusnya, namamu akan tercatat dalam daftar Awliya' Allah (wali Allah)."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar