Kamis, 10 November 2016

IBU YANG MENITIPKAN ANAKNYA KEPADA ALLAH

Seorang waliy Allah yang Istimewa sejak kecil, dialah Thaifur atau yang kita kenal dengan sebutan Abu Yazid al-Busthami.

Suatu ketika, Ibunya berkata padanya,

“Setiap kali ibu memasukkan makanan yang syubhat ke mulut ibu, engkau meronta ronta dalam kandungan dan tak mau diam sampai ibu mengeluarkan makanan itu dari mulut ibu.”

Pernyataan ini dibenarkan oleh Abu Yazid sendiri.

Waktu lbunya menyekolahkannya disebuah sekolah, Abu yazid mempelajari Al-Quran.

Suatu hari, gurunya menjelaskan makna salah satu ayat di surah Luqman:

“Bersyukurlah kepada Ku dan kepada kedua orang tuamu.”

Ayat ini menggetarkan hati Abu Yazid.

”Guru,” katanya, seraya meletakkan buku catatannya,

“izinkanlah aku untuk pulang dan mengatakan sesuatu kepada ibuku.”

Gurunya mengizinkannya, dan Abu Yazid pun bergegas pulang.

”Ada apa, Thaifur? mengapa engkau pulang? Apa mereka memberimu hadiah, atau ada acara khusus.”

”Tidak, Pelajaranku telah sampai kepada ayat di mana Allah memerintahkan aku untuk mengabdi kepada Nya dan kepada Ibu. Aku tidak akan sanggup melaksanakan keduanya sekaligus.
Ayat ini menggetarkan hatiku. Hanya ada dua pilihan: lbu memintaku dari Allah agar aku dapat menjadi milik lbu sepenuhnya, atau lbu menyerahkanku kepada Allah agar aku dapat sepenuhnya bersama-Nya.”

Suatu malam, ibuku memintaku untuk mengambilkannya air minum.

Aku bergegas mengambilkan air minum untuknya, namun tak ada air di teko.
Aku pun mengambil kendi, namun kendi ini juga kosong.
Maka aku pun pergi ke sungai dan mengisi kendi dengan air.

Ketika aku kembali ke rumah, ibuku telah tertidur.
Malam itu udara begitu dingin. Aku memegang teko dengan tanganku.
Ketika ibuku terbangun, ia pun minum dan mendoakanku. Lalu ia melihat bahwa teko itu membuat tanganku membeku kedinginan.

"Mengapa tak engkau letakkan saja teko itu?" tanya ibuku.

”Aku takut tatkala lbu terbangun, aku tidak ada di sisi Ibu," jawabku.

Setelah ibunya menyerahkannya kepada Allah, Abu Yazid meninggalkan Bistham dan selama tiga puluh tahun berkelana dari satu daerah ke daerah lain, mendisiplinkan dirinya dengan ibadah dan rasa lapar yang sinambung.

Setelah 30 tahun berkelana,
Pada tengah malam, ia memasuki kota Bistham dan menuju ke rumah ibunya.
Di sana, ia berdiri dan mendengar suara ibunya berwudlu dan berdoa.

"Ya Allah, jagalah orang buangan kita (maksudnya Abu Yazid).
Buatlah hati para syekh (guru spiritual) cenderung padanya, dan berikanlah ia petunjuk agar dapat melakukan segalanya dengan baik.”

Abu Yazid menangis ketika ia mendengar kata-kata ini.

Kemudian ia mengetuk pintu.

”Siapa itu?” pekik ibunya.

”Orang buanganmu,” jawab Abu Yazid.

Sambil menangis, sang ibu membuka pintu.

Pandangan matanya tampak suram.

”Thaifur,” kata sang ibu pada anaknya.
“tahukah engkau apa yang telah menyuramkan pandangan mataku? Tangisan. Aku kerap menangis selama terpisah darimu, dan punggung ibu bungkuk dua kali lipatu karena menanggung beban kesedihan.”



Abdul Ghoni Masyhuri

Tidak ada komentar:

Posting Komentar