Rabu, 20 Mei 2020

Siapakah Imam Mahdi

عن عَبْدِ الله قَالَ: قَالَ رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم: لاَ تَذْهَبُ الدّنْيَا حَتّى يَمْلِكَ العَرَبَ رَجُلٌ مَنْ أَهْلِ بَيْتِي يُوَاطِئُ اسْمَهُ اسْمِي 

Artinya, “Dari Abdullah (bin Masud) berkata, Rasulullah  bersabda, “Tidak hancur dunia (kiamat) sampai orang Arab memiliki seorang laki-laki dari keturunanku yang namanya sama dengan namaku.” (HR. At-Tirmidzi)

Kata al-Mahdi sendiri dalam hadits sering disebutkan sebagai laqab (julukan). Rasul  hanya menyebutkan nama al-Mahdi itu dengan ciri: mirip namanya dan nama ayahnya mirip nama ayah Rasul . Kata al-Mahdi berarti orang yang mendapatkan hidayah (alladzi qad hadâhullahu ilâ al-ḥaq). Hal ini nanti terkait tugas yang diemban oleh al-Mahdi, yaitu memberikan kemakmuran dan kejayaan bagi umat, sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat al-Hakim dalam al-Mustadrak-nya.

Sebenarnya ciri Imam Mahdi jika kita mengacu pada hadits hasan dan sahih di atas adalah hanya tiga: (1) keturunan Nabi Muhammad , (2) namanya mirip dengan Nabi Muhammad  dan nama ayahnya mirip dengan nama ayah Nabi Muhammad , (3) dan dahinya lebar serta hidungnya mancung.

Selain ciri-ciri di atas, apalagi jika mengatasnamakan hadits selain di atas, perlu dikaji ulang dan secara mendalam. Terlebih akhir-akhir ini banyak orang maupun kelompok yang mengaku sebagai al-Mahdi.

Imam as-Suyuthi pernah menyebutkan bahwa ciri-ciri al-Mahdi palsu adalah mereka membuat standar keimanan sendiri bahwa umat Islam yang mendukungnya sebagai mukmin dan yang menolak bergabung bersama mereka disebut kafir. Ciri lainnya, mereka berani membunuhi para ulama. (Lihat: Al-Suyuthi, Syarah Sunan Ibn Majah, [Karaci: Qadimi Kutb Khanah, t.t], j. 1, h. 300).

Kamis, 24 Agustus 2017

Semakin Berisi Semakin Merunduk

Di dalam cerita sufi dikisahkan tentang adanya seorang yang berminat kepada tasawuf. Dari seorang temannya dia mendengar tentang adanya guru sufi yang agung. Karena itu, dia pergi ke sana dengan menyewa seekor unta dari seorang penggembala.

Singkat cerita, setelah menempuh perjalanan yang berat dan lama, akhirnya sampailah dia ke rumah sang guru. Ternyata, orang yang akan dijadikan gurunya itu justru bersikap sangat hormat kepada si penggembala unta, sampai-sampai si penyewa unta itu terheran-heran. 

“Saya datang untuk berguru kepada Anda, tetapi sikap Anda kepada penggembala unta layaknya kepada seorang guru saja,” kata si penyewa unta itu tanpa menutupi kekesalannya. Sang guru, yakni si tuan rumah itu, menjelaskan bahwa si penggembala unta itu memang tidak lain adalah gurunya sendiri.

Cerita seperti itu banyak sekali di dalam tasawuf. Tetapi sebetulnya bukan monopoli tradisi sufisme, sebab hampir semua budaya mengarah ke situ. Dalam pepatah Melayu, misalnya, dikatakan, “Makin berisi, padi makin merunduk.” Idenya ialah tentang sikap rendah hati, seperti ditampakkan oleh si penggembala unta dalam cerita di atas, yang ternyata adalah gurunya guru sufi. 

Di kalangan ulama ada pandangan bahwa tidak ada yang tahu seorang wali kecuali wali. Maka kalau kita mengatakan bahwa seseorang itu wali, maka efeknya seolah- olah kita mengklaim diri kita sendiri sebagai wali (orang suci).

Dalam hal ini, ungkapan Ali ibn Abi Thalib sangat bagus ketika menggambarkan kesucian, “Sebaik-baik kesucian adalah menyembunyikan kesucian itu.”





Sabtu, 12 November 2016

IBLIS MENEROR KAUM REMAJA

Awalnya, ia berprofesi sebagai tukang sepatu, dialah Abu Sa'id,

Akan tetapi pada akhirnya, ia menimba ilmu kepada Dzun Nun Al-Mishri dan bersahabat dengan Bisyr Al Hafi dan Sari As Saqathi.

Kesufian Abu Sa'id sangat terkenal saat itu.

Karena kemuliaan hatinya,
Allah SWT memberikan karomah kepadanya, yang antara lain adalah, Mampu menaklukkan iblis meskipun itu terjadi hanya di dalam mimpi.

Dalam sebuah mimpi, ia bertemu dengan iblis.

Abu Sa'id mengambil sebuah tongkat untuk memukulnya.

Pada saat itu juga, terdengar oleh beliau, sebuah seruan dari langit,

"Ia tidak takut kepada tongkat itu, yang ditakutinya adalah cahaya di dalam hatimu."

Kemudian Abu Sa'id berkata kepada
iblis,

"Kemarilah," seru Sa'id.

"Apalah dayaku terhadapmu?
Aku tunduk kepadamu, karena engkau telah mencampakkan sesuatu yang dapat aku gunakan untuk menyesatkan manusia," ujar iblis.

"Apakah itu?
Jelaskanlah kepadaku," tanya Abu Sa'id.

"Dunia," jawab Iblis.

Kemudian ketika meninggalkan Abu Sa'id, iblis tersebut menoleh ke belakang dan berkata :

"Ada suatu hal kecil di dalam diri manusia yang dapat aku gunakan untuk mencapai tujuanku."

"Apakah itu?" tanya Abu Sa'id.

"Duduk bersama dengan para remaja," jawab iblis.


Jumat, 11 November 2016

JIJIKNYA GHIBAH (MENGUMPAT)

Saat Imam Junaid al-Baghdadi sedang berceramah di masjid

Tiba-tiba, salah satu jamaahnya berdiri dan berjalan keliling dalam masjid dengan mengemis.

"Orang ini benar-benar sehat," pikir imamJunaid.

"Dia bisa mencari nafkah. Mengapa ia mengemis, dan memaksakan pada dirinya sendiri untuk melakukan kehinaan ini? "

Malamnya,
Imam Junaid bermimpi kedatangan sebuah hidangan tertutup di hadapannya.

"Makan," ia diperintahkan.

Ketika ia mengangkat tutupnya, dia melihat orang yang telah mengemis tadi tergeletak mati di piring.

"Saya tidak makan daging manusia," protesnya.

"Lalu kenapa Anda melakukannya dimasjid kemarin?" Ia ditanya.

Imam Junaid menyadari bahwa ia telah bersalah, memasukkan Ghibah (mengumpat) dalam hatinya, dan ia merasa sedang di adili karena berpikiran jahat.

"Aku terbangun ketakutan," kata Imam Junaid.

"Aku berwudhu' dan melakukan sholat dua rakaat, kemudian pergi untuk mencari pengemis itu.

Aku melihat dia di tepi sungai Tigris, sedang mencuci sisa-sisa sayuran yang di buang orang dan memakannya...

Dia Mengangkat kepalanya,

Melihat saya mendekati dan menyapa.

Dia mengatakan :
"Junaid, Apakah anda telah
bertaubat dari pikiran-pikiran jahat tentang saya?"

"Iya," jawab saya.

"Pergilah... Allah yang menerima taubat dari hamba-Nya.
Lain kali, hati-hatilah atas apa yang ada di pikiran mu"...


KETIKA IMAM JUNAID BUTA

Selain dikenal sebagai ulama shufi,
Imam Junaid Al Baghdadi termasuk orang pertama yang menyusun dan membahas tentang ilmu tashawuf dengan ijtihadnya.

Banyak kitab- kitab yang menerangkan tentang ilmu tashawuf berdasarkan kepada ijtihad Imam Junaid Al-Baghdadi.

Imam Junaid hidup dalam keadaan
zuhud.

Ia ridha dan bersyukur kepada Allah SWT dengan segala nikmat yang telah dikaruniakan kepadanya.

Termasuk kala ia mendapatkan cobaan berupa kebutaan di kedua matanya.

Pada suatu hari, Imam Junaid Al-Baghdadi mengalami sakit pada kedua matanya.

Setelah sekian lama mencoba untuk menyembuhkannya, bertemulah ia dengan seorang tabib yang beragama Nasrani.

"Sakit mata ini bisa sembuh, asal tidak sampai terkena air, jadi jangan dulu membasuh matamu dengan air," pesan tabib itu.

Mendapat penjelasan itu, Imam Junaid mengambil kesimpulan bahwa sang tabib tengah berupaya mencegahnya untuk beribadah kepada Allah SWT.

"Jika mataku tak terkena air, maka bagaimana aku bisa berwudhu untuk menghadap Tuhan-ku," katanya dalam hati.

Akhirnya, Imam Junaid pulang ke rumah, dan dia langsung menuju tempat air dan berwudhu dengan sempurna.

Kemudian ia menjalankan shalat sunnah dua rakaat lalu membaringkan tubuhnya di tempat tidur untuk beristirahat.

Subhanallah...
Ketika terbangun, matanya telah sembuh seperti sedia kala.

Saat itu juga, ada suara yang membisikkan kepada Imam Junaid.

"Junaid sembuh karena memilih ridha Allah dibandingkan dengan matanya sendiri," ujar suara gaib itu.

Keesokan harinya, tabib Nasrani mendengar kabar kesembuhan mata Imam Junaid.

Dia pun menanyakan kepada Imam Junaid perihal kesembuhannya.

Akan tetapi sang tabib terkejut setengah mati, karena obat sakit mata Imam Junaid bukannya menghindari air seperti yang dia sarankan, tapi justru berwudhu yang artinya membasuh wajah beserta mata dengan air.

Karena takjub dengan hal itu, sang tabib pun menyatakan keimanannya, berpindah dari agama Nasrani ke agama Islam.

"Penyakit ini dari Allah, bukan dari makhluk, maka obatnya pun dari-Nya," kata Imam Junaid kepada tabib Nasrani itu.


TAKLUKNYA IMAM JUNAID SANG JUARA SMACK DOWN

Saat masih muda,
Imam Junaid al-Baghdadi memiliki badan yang kekar dan menunjang hidupnya dengan mata pencaharian sebagai pegulat profesional.

Dan seperti biasa, setiap tahun diadakan kontes gulat oleh Penguasa Baghdad.

"Hari ini, Junaid al-Baghdadi (juara bertahan) akan menunjukkan keahliannya sebagai pegulat.
Hari ini, Apakah ada orang yang berani menantangnya?"

Seorang pria tua, berdiri dengan leher gemetar dan berkata :
"Aku akan ikut kontes ini dan menantang dia."

Siapapun yang menyaksikan adegan ini tidak bisa menahan diri, mereka senua tertawa dan bertepuk tangan.

Raja terikat oleh hukum.
Dia tidak bisa menghentikan seseorang yang ingin memasuki pertarungan.

Orang tua itu diberi izin untuk memasuki ring.

Ia berusia sekitar 65 tahun.

Ketika sang juara bertahan, (Junaid al-Baghdadi) memasuki ring, ia tercengang seperti Raja dan semua penonton yang hadir.

Semua memiliki pikiran yang sama,

"Bagaimana mungkin orang tua ini mampu melawan dan menang?"

Orang tua itu berjabat tangan dengan Imam Junaid dan dengan suara lirih berkata :

"Pinjamkan aku telinga Anda."
(Dengarkan kata-kataku) Ia kemudian berbisik:

"Aku tahu, Aku tidak mungkin memenangkan pertarungan ini.

Aku adalah seorang Sayyid, keturunan Nabi Muhammad.
Anak-anakku sedang kelaparan dirumah.

Apakah Anda siap untuk mengorbankan nama Anda, Kehormatan dan Posisi Anda untuk cinta pada Nabi Allah dan kehilangan pertarungan ini demi aku?

Jika Anda melakukan hal ini aku bisa mengumpulkan uang hadiahnya dan dengan demikian aku bisa memberi makan anak-anakku selama satu tahun penuh.

Dan aku akan menyelesaikan pembayaran semua hutangku.
Dan yang lebih penting lagi, Rasulullah akan senang/ridha dengan Anda.

Apakah Anda bersedia mengorbankan kehormatan Anda demi anak-anak Rasulullah ﷺ ?"

Junaid al-Baghdadi berpikir sejenak dan berkata:

"Hari ini, aku memiliki kesempatan yang sangat baik."

Dengan tampilan yang bersemangat, Junaid al-Baghdadi menunjukkan kelihaiannya, menunjukkan kemahiran bergulatnya, sehingga Raja tidak menduga ada persekongkolan yang disepakati.

Junaid dengan kemahiran yang luar biasa, tidak mempergunakan kekuatannya sehingga membuat dirinya sendiri terjatuh, ditindihi orang tua itu.

Dan dengan rendah hati, Junaid memproklamirkan kekalahannya, Sehingga ia pun memberikan hak kepada orang tua itu sebagai pemenang dan meraih hadiahnya.

Malamnya,
Junaid al-Baghdadi mimpi bertemu Nabi Muhammad ﷺ yang
mengatakan:

"Duhai Junaid, Kamu telah mengorbankan kehormatanmu, ketenaranmu yang telah diakui seluruh negeri.
Nama dan posisi yang digembar-gemborkan di seluruh penjuru Baghdad, bertukar demi ekspresi cintamu untuk anak-anakku yang kelaparan.
Pada hari ini dan seterusnya, namamu akan tercatat dalam daftar Awliya' Allah (wali Allah)."


LEBIH BAIK MATI TERHORMAT DARI PADA MENJUAL HARGA DIRI

Salah satu Karomah Imam Syibli adalah, Allah berikan kemampuan untuk berbicara dengan pepohonan.

Pada suatu hari,
Imam Syibli sedang berada di kebunnya yang subur.

Ketika sedang asyik bekerja di kebun itu, tiba-tiba saja terdengar suara yang memanggilnya.

"Syibli...!!! Syibli...!!!"

Imam Syibli segera menghentikan pekerjaannya dan mencari-cari siapa gerangan yang memanggil-manggil namanya.

Ternyata, suara itu datang dari sebuah pohon mangga.

"Ada keperluan apa engkau memanggilku?" tanya Imam Syibli.

"Jadilah makhluk yang memiliki sifat sepertiku," jawab pohon mangga itu.

"Apa maksudmu..." tanya Imam Syibli yang tak mengerti.

"Jika aku dilempari orang dengan batu, aku balas orang itu dengan buahku yang lezat," tutur phon mangga itu.

"Oh...engkau memang baik hati,
Tapi mengapa nasibmu tidak baik pada akhirnya?" tanya Iman Syibli.

Kini, ganti pohon mangga itu yang
keheranan, dan tidak mengerti.

"Apa maksudmu Syibli?" tanya pohon mangga.

"Kalau engkau sudah tidak ada gunanya lagi, sudah tua, batangmu akan ditebang.
Daun-daunmu akan digunduli dan engkau akan menjadi mangsa api sebagai kayu bakar," kata Imam Syibli.

"Itulah nasibku," kata pohon mangga.

"Jadi mana yang lebih baik, nasibmu atau nasib pohon cemara yang di sana?" tanya Imam Syibli.

"Inilah kebangganku, memang pohon cemara di sana bisa selamat dengan cara begitu, akan tetapi kalau sudah tua nanti akan roboh begitu saja dan tidak ada yang mengambil batangnya untuk dibuat kayu bakar, apalagi arang.

Sedangkan aku, meskipun pada akhirnya aku akan hancur dan dimakan api, tapi dengan cara terhormat.
Karena manusia tidak akan sembarangan membakarku jika tidak untuk keperluan yang jelas seperti untuk memasak dan sebagainya,"

Jadi, aku ini masih ada gunanya sampai pada akhir hidupku,

Abu bekas pembakaranku juga masih diperlukan orang untuk menggosok perabotan rumah tangga, dan abuku terkenal mahal serta dapat membuat barang-barang logam menjadi bersih dan mengkilap.

Jadi, nasibku lebih baik dari pada pohon cemara," tutur pohon mangga.

Imam Syibli mengangguk-anggukkan kepalanya, ia menyetujui pendapat pohon mangga.

Maksud Kisah ini adalah :

Lebih baik mati terhormat dari pada menjual harga diri dengan bersikap munafik yang bersedia mengikuti arus, kemanapun angin bertiup dia pun mengikutinya.