Sabtu, 12 November 2016

IBLIS MENEROR KAUM REMAJA

Awalnya, ia berprofesi sebagai tukang sepatu, dialah Abu Sa'id,

Akan tetapi pada akhirnya, ia menimba ilmu kepada Dzun Nun Al-Mishri dan bersahabat dengan Bisyr Al Hafi dan Sari As Saqathi.

Kesufian Abu Sa'id sangat terkenal saat itu.

Karena kemuliaan hatinya,
Allah SWT memberikan karomah kepadanya, yang antara lain adalah, Mampu menaklukkan iblis meskipun itu terjadi hanya di dalam mimpi.

Dalam sebuah mimpi, ia bertemu dengan iblis.

Abu Sa'id mengambil sebuah tongkat untuk memukulnya.

Pada saat itu juga, terdengar oleh beliau, sebuah seruan dari langit,

"Ia tidak takut kepada tongkat itu, yang ditakutinya adalah cahaya di dalam hatimu."

Kemudian Abu Sa'id berkata kepada
iblis,

"Kemarilah," seru Sa'id.

"Apalah dayaku terhadapmu?
Aku tunduk kepadamu, karena engkau telah mencampakkan sesuatu yang dapat aku gunakan untuk menyesatkan manusia," ujar iblis.

"Apakah itu?
Jelaskanlah kepadaku," tanya Abu Sa'id.

"Dunia," jawab Iblis.

Kemudian ketika meninggalkan Abu Sa'id, iblis tersebut menoleh ke belakang dan berkata :

"Ada suatu hal kecil di dalam diri manusia yang dapat aku gunakan untuk mencapai tujuanku."

"Apakah itu?" tanya Abu Sa'id.

"Duduk bersama dengan para remaja," jawab iblis.


Jumat, 11 November 2016

JIJIKNYA GHIBAH (MENGUMPAT)

Saat Imam Junaid al-Baghdadi sedang berceramah di masjid

Tiba-tiba, salah satu jamaahnya berdiri dan berjalan keliling dalam masjid dengan mengemis.

"Orang ini benar-benar sehat," pikir imamJunaid.

"Dia bisa mencari nafkah. Mengapa ia mengemis, dan memaksakan pada dirinya sendiri untuk melakukan kehinaan ini? "

Malamnya,
Imam Junaid bermimpi kedatangan sebuah hidangan tertutup di hadapannya.

"Makan," ia diperintahkan.

Ketika ia mengangkat tutupnya, dia melihat orang yang telah mengemis tadi tergeletak mati di piring.

"Saya tidak makan daging manusia," protesnya.

"Lalu kenapa Anda melakukannya dimasjid kemarin?" Ia ditanya.

Imam Junaid menyadari bahwa ia telah bersalah, memasukkan Ghibah (mengumpat) dalam hatinya, dan ia merasa sedang di adili karena berpikiran jahat.

"Aku terbangun ketakutan," kata Imam Junaid.

"Aku berwudhu' dan melakukan sholat dua rakaat, kemudian pergi untuk mencari pengemis itu.

Aku melihat dia di tepi sungai Tigris, sedang mencuci sisa-sisa sayuran yang di buang orang dan memakannya...

Dia Mengangkat kepalanya,

Melihat saya mendekati dan menyapa.

Dia mengatakan :
"Junaid, Apakah anda telah
bertaubat dari pikiran-pikiran jahat tentang saya?"

"Iya," jawab saya.

"Pergilah... Allah yang menerima taubat dari hamba-Nya.
Lain kali, hati-hatilah atas apa yang ada di pikiran mu"...


KETIKA IMAM JUNAID BUTA

Selain dikenal sebagai ulama shufi,
Imam Junaid Al Baghdadi termasuk orang pertama yang menyusun dan membahas tentang ilmu tashawuf dengan ijtihadnya.

Banyak kitab- kitab yang menerangkan tentang ilmu tashawuf berdasarkan kepada ijtihad Imam Junaid Al-Baghdadi.

Imam Junaid hidup dalam keadaan
zuhud.

Ia ridha dan bersyukur kepada Allah SWT dengan segala nikmat yang telah dikaruniakan kepadanya.

Termasuk kala ia mendapatkan cobaan berupa kebutaan di kedua matanya.

Pada suatu hari, Imam Junaid Al-Baghdadi mengalami sakit pada kedua matanya.

Setelah sekian lama mencoba untuk menyembuhkannya, bertemulah ia dengan seorang tabib yang beragama Nasrani.

"Sakit mata ini bisa sembuh, asal tidak sampai terkena air, jadi jangan dulu membasuh matamu dengan air," pesan tabib itu.

Mendapat penjelasan itu, Imam Junaid mengambil kesimpulan bahwa sang tabib tengah berupaya mencegahnya untuk beribadah kepada Allah SWT.

"Jika mataku tak terkena air, maka bagaimana aku bisa berwudhu untuk menghadap Tuhan-ku," katanya dalam hati.

Akhirnya, Imam Junaid pulang ke rumah, dan dia langsung menuju tempat air dan berwudhu dengan sempurna.

Kemudian ia menjalankan shalat sunnah dua rakaat lalu membaringkan tubuhnya di tempat tidur untuk beristirahat.

Subhanallah...
Ketika terbangun, matanya telah sembuh seperti sedia kala.

Saat itu juga, ada suara yang membisikkan kepada Imam Junaid.

"Junaid sembuh karena memilih ridha Allah dibandingkan dengan matanya sendiri," ujar suara gaib itu.

Keesokan harinya, tabib Nasrani mendengar kabar kesembuhan mata Imam Junaid.

Dia pun menanyakan kepada Imam Junaid perihal kesembuhannya.

Akan tetapi sang tabib terkejut setengah mati, karena obat sakit mata Imam Junaid bukannya menghindari air seperti yang dia sarankan, tapi justru berwudhu yang artinya membasuh wajah beserta mata dengan air.

Karena takjub dengan hal itu, sang tabib pun menyatakan keimanannya, berpindah dari agama Nasrani ke agama Islam.

"Penyakit ini dari Allah, bukan dari makhluk, maka obatnya pun dari-Nya," kata Imam Junaid kepada tabib Nasrani itu.


TAKLUKNYA IMAM JUNAID SANG JUARA SMACK DOWN

Saat masih muda,
Imam Junaid al-Baghdadi memiliki badan yang kekar dan menunjang hidupnya dengan mata pencaharian sebagai pegulat profesional.

Dan seperti biasa, setiap tahun diadakan kontes gulat oleh Penguasa Baghdad.

"Hari ini, Junaid al-Baghdadi (juara bertahan) akan menunjukkan keahliannya sebagai pegulat.
Hari ini, Apakah ada orang yang berani menantangnya?"

Seorang pria tua, berdiri dengan leher gemetar dan berkata :
"Aku akan ikut kontes ini dan menantang dia."

Siapapun yang menyaksikan adegan ini tidak bisa menahan diri, mereka senua tertawa dan bertepuk tangan.

Raja terikat oleh hukum.
Dia tidak bisa menghentikan seseorang yang ingin memasuki pertarungan.

Orang tua itu diberi izin untuk memasuki ring.

Ia berusia sekitar 65 tahun.

Ketika sang juara bertahan, (Junaid al-Baghdadi) memasuki ring, ia tercengang seperti Raja dan semua penonton yang hadir.

Semua memiliki pikiran yang sama,

"Bagaimana mungkin orang tua ini mampu melawan dan menang?"

Orang tua itu berjabat tangan dengan Imam Junaid dan dengan suara lirih berkata :

"Pinjamkan aku telinga Anda."
(Dengarkan kata-kataku) Ia kemudian berbisik:

"Aku tahu, Aku tidak mungkin memenangkan pertarungan ini.

Aku adalah seorang Sayyid, keturunan Nabi Muhammad.
Anak-anakku sedang kelaparan dirumah.

Apakah Anda siap untuk mengorbankan nama Anda, Kehormatan dan Posisi Anda untuk cinta pada Nabi Allah dan kehilangan pertarungan ini demi aku?

Jika Anda melakukan hal ini aku bisa mengumpulkan uang hadiahnya dan dengan demikian aku bisa memberi makan anak-anakku selama satu tahun penuh.

Dan aku akan menyelesaikan pembayaran semua hutangku.
Dan yang lebih penting lagi, Rasulullah akan senang/ridha dengan Anda.

Apakah Anda bersedia mengorbankan kehormatan Anda demi anak-anak Rasulullah ﷺ ?"

Junaid al-Baghdadi berpikir sejenak dan berkata:

"Hari ini, aku memiliki kesempatan yang sangat baik."

Dengan tampilan yang bersemangat, Junaid al-Baghdadi menunjukkan kelihaiannya, menunjukkan kemahiran bergulatnya, sehingga Raja tidak menduga ada persekongkolan yang disepakati.

Junaid dengan kemahiran yang luar biasa, tidak mempergunakan kekuatannya sehingga membuat dirinya sendiri terjatuh, ditindihi orang tua itu.

Dan dengan rendah hati, Junaid memproklamirkan kekalahannya, Sehingga ia pun memberikan hak kepada orang tua itu sebagai pemenang dan meraih hadiahnya.

Malamnya,
Junaid al-Baghdadi mimpi bertemu Nabi Muhammad ﷺ yang
mengatakan:

"Duhai Junaid, Kamu telah mengorbankan kehormatanmu, ketenaranmu yang telah diakui seluruh negeri.
Nama dan posisi yang digembar-gemborkan di seluruh penjuru Baghdad, bertukar demi ekspresi cintamu untuk anak-anakku yang kelaparan.
Pada hari ini dan seterusnya, namamu akan tercatat dalam daftar Awliya' Allah (wali Allah)."


LEBIH BAIK MATI TERHORMAT DARI PADA MENJUAL HARGA DIRI

Salah satu Karomah Imam Syibli adalah, Allah berikan kemampuan untuk berbicara dengan pepohonan.

Pada suatu hari,
Imam Syibli sedang berada di kebunnya yang subur.

Ketika sedang asyik bekerja di kebun itu, tiba-tiba saja terdengar suara yang memanggilnya.

"Syibli...!!! Syibli...!!!"

Imam Syibli segera menghentikan pekerjaannya dan mencari-cari siapa gerangan yang memanggil-manggil namanya.

Ternyata, suara itu datang dari sebuah pohon mangga.

"Ada keperluan apa engkau memanggilku?" tanya Imam Syibli.

"Jadilah makhluk yang memiliki sifat sepertiku," jawab pohon mangga itu.

"Apa maksudmu..." tanya Imam Syibli yang tak mengerti.

"Jika aku dilempari orang dengan batu, aku balas orang itu dengan buahku yang lezat," tutur phon mangga itu.

"Oh...engkau memang baik hati,
Tapi mengapa nasibmu tidak baik pada akhirnya?" tanya Iman Syibli.

Kini, ganti pohon mangga itu yang
keheranan, dan tidak mengerti.

"Apa maksudmu Syibli?" tanya pohon mangga.

"Kalau engkau sudah tidak ada gunanya lagi, sudah tua, batangmu akan ditebang.
Daun-daunmu akan digunduli dan engkau akan menjadi mangsa api sebagai kayu bakar," kata Imam Syibli.

"Itulah nasibku," kata pohon mangga.

"Jadi mana yang lebih baik, nasibmu atau nasib pohon cemara yang di sana?" tanya Imam Syibli.

"Inilah kebangganku, memang pohon cemara di sana bisa selamat dengan cara begitu, akan tetapi kalau sudah tua nanti akan roboh begitu saja dan tidak ada yang mengambil batangnya untuk dibuat kayu bakar, apalagi arang.

Sedangkan aku, meskipun pada akhirnya aku akan hancur dan dimakan api, tapi dengan cara terhormat.
Karena manusia tidak akan sembarangan membakarku jika tidak untuk keperluan yang jelas seperti untuk memasak dan sebagainya,"

Jadi, aku ini masih ada gunanya sampai pada akhir hidupku,

Abu bekas pembakaranku juga masih diperlukan orang untuk menggosok perabotan rumah tangga, dan abuku terkenal mahal serta dapat membuat barang-barang logam menjadi bersih dan mengkilap.

Jadi, nasibku lebih baik dari pada pohon cemara," tutur pohon mangga.

Imam Syibli mengangguk-anggukkan kepalanya, ia menyetujui pendapat pohon mangga.

Maksud Kisah ini adalah :

Lebih baik mati terhormat dari pada menjual harga diri dengan bersikap munafik yang bersedia mengikuti arus, kemanapun angin bertiup dia pun mengikutinya.


AGAR DICIUM RASULULLAH

Imam as-Syibly,

Orang menyebutnya Majnun, alias Gila, Sinting, Nyeleneh.

Dia pernah memakai celak mata yang dicampur dengan garam,
supaya ia tidak tertidur di waktu malam.

Dengan begitu, ia bisa menghidupkan malam dengan shalat-shalat sunnat.

Jika datang bulan Ramadhan, maka ia semakin giat beribadah melebihi orang-orang di masanya.

Mungkin inilah sebagian dari ke-nyeleneh-an Beliau.

Dalam kitab Syarh Ratib al-Haddad,
Diceritakan bahwa Imam as-Syibly pernah mendatangi majlisnya Syaikh Abu Bakar bin
Mujahid.

Melihat Beliau datang,
Syaikh Abu Bakar langsung bangun dari duduknya dan menyambutnya, lalu memeluk dan mencium keningnya.

Setelah kejadian itu,
Syaikh Abu Bakar ditanya oleh salah satu muridnya :

‘"Duhai Guruku...!!
Engkau melakukan yang demikian kepada Imam as-Syibli..??
Padahal, engkau dan semua penduduk Baghdad menganggapnya sebagai orang sinting...

Syaikh Abu Bakar bin Mujahid menjawab :
"Apa yang aku lakukan kepadanya adalah karena mencontoh yang dilakukan Rasulullah kepadanya......

Aku pernah bermimpi melihat dia datang kepada Rasulullah Saw....
Lalu Rasulullah bangun dari duduknya dan mencium kening dia.

Lalu dengan heran aku bertanya kepada Rasulullah:
"Duhai Rasulallah...!
Engkau berbuat demikian kepada as- Syibli..??’'.

Rasulullah menjawab:
"Ya, begitulah....
Itu karena orang ini (Syibli), sehabis shalat, senantiasa membaca ayat:

LAQOD JAA-AKUM ROSUULUN MIN ANFUSIKUM 'AZIIZUN 'ALAIHI MAA 'ANITTUM HARIISHUN 'ALAIKUM BIL MU'MINIINA RO'UUFUN ROHIIM
(at-Taubah: 128).

Lalu ia melanjutkannya dengan membaca shalawat kepadaku sebanyak 3 kali".


ANJING MULIA

Disuatu kesempatan,
Abu Yazid al-Busthami sedang menyusuri sebuah jalan sendirian,

Tiba-tiba, ada seekor Anjing berlari-lari disampingnya,

Melihat hal itu, Abu Yazid spontan kaget dan segera mengangkat Jubah kehormatannya,barangkali hawatir bersentuhan dengan anjing yang (secara hukum adalah) Najis.

Dan,,,
Tiba-tiba, Anjing itu mampu berbicara :

“Tubuhku kering dan aku tidak melakukan kesalahan apa-apa,
Seandainya tubuhku basah, engkau cukup mencucinya dengan air yang bercampur tanah tujuh kali,maka selesailah persoalan diantara kita,

Tetapi, apabila engkau
menyingkapkan Jubah sebagai rasa sombong),
Ketahuilah, engkau tidak akan bersih walau pun engkau membasuhnya dengan tujuh samudra sekalipun!!!!”.

Abu Yazid menjawab :
"Engkau kotor secara lahiriyah,
Tetapi aku kotor secara batiniyah,

Marilah kita bersama-sama berusaha agar kita berdua menjadi bersih”

“Engkau tidak pantas untuk berjalan bersama-sama dengan diriku dan menjadi sahabatku,
Karena semua orang menolak kehadiranku,

Siapapun yang bertemu dengan diriku akan melempariku dengan batu, berbeda
dengan dirimu. Siapapun akan menyambut kedatanganmu.

Aku tidak pernah menyimpan sepotong tulangpun,
Tetapi engkau memiliki sekarung gandum untuk makanan esok hari !!! ” kata anjing tadi menyindir.


Kamis, 10 November 2016

CARA MENUNDUKKAN BINATANG BUAS

Suatu ketika, seorang sufi yang
masih muda datang dengan maksud ingin berguru kepada Abu Said Abul Khair, (seorang tokoh sufi yang terkenal karena ‘ karamah’ nya dan gemar mengajar tasawuf di pengajian- pengajian).

Rumah guru sufi itu terletak di tengah-tengah padang pasir.

Ketika sufi muda itu tiba di rumahnya, Abul Khair sedang
memimpin Majelis di tengah-tengah para pengikutnya.

Waktu itu Abul Khair membaca surah Al-Fatihah, bertepatan pada ayat:
Ghairil maghdubi 'alaihim, wa ladh dhallin.

Sufi muda itu berpikir,
"Bagaimana mungkin ia seorang sufi terkenal? Makhraj bacaan Al-Fatihahnya tidak bagus?

Bagaimana mungkin aku bisa
berguru kepadanya?
Baca Al-Quran saja, ia tidak bagus?"

Sufi muda itu mengurungkan niatnya untuk belajar kepada Abul Khair.

Begitu orang itu keluar, ia langsung dihadang oleh seekor singa padang pasir yang buas.

Ia mundur tetapi di belakangnya ada seekor singa lain yang menghalanginya.

Lelaki muda itu menjerit keras karena ketakutan.

Mendengar teriakannya, Abul Khair
turun keluar meninggalkan majelisnya.
Ia menatap kedua ekor singa itu dan menegur mereka,

"Wahai Singa, Bukankah sudah kubilang padamu, jangan pernah kalian menganggu para tamuku!"

Kedua singa itu lalu bersimpuh di
hadapan Abul Khair.

Sang sufi lalu mengelus telinga keduanya dan menyuruhnya pergi.

Lelaki muda itu keheranan, "Bagaimana mungkin Anda dapat menaklukkan singa-singa yang begitu liar?"

Abul Khair menjawab :
"Anak muda, selama ini Aku sibuk memperhatikan urusan hatiku,
Bertahun-tahun aku berusaha
menata hatiku, hingga aku tidak sempat berprasangka buruk kepada orang lain.

Untuk kesibukanku menaklukkan hati ini, Allah SWT menaklukkan seluruh alam semesta kepadaku.
Semua binatang buas di
sini, termasuk singa padang pasir
yang buas tadi, semua tunduk
padaku.

Kamu tahu kekuranganmu wahai anak muda ?

“Tidak , wahai Guru”, jawab anak muda itu.

“Selama ini kamu sibuk memperhatikan hal-hal lahiriah,
hingga nyaris lupa memperhatikan hatimu, karena itu kamu takut
kepada seluruh alam semesta."


IBU YANG MENITIPKAN ANAKNYA KEPADA ALLAH

Seorang waliy Allah yang Istimewa sejak kecil, dialah Thaifur atau yang kita kenal dengan sebutan Abu Yazid al-Busthami.

Suatu ketika, Ibunya berkata padanya,

“Setiap kali ibu memasukkan makanan yang syubhat ke mulut ibu, engkau meronta ronta dalam kandungan dan tak mau diam sampai ibu mengeluarkan makanan itu dari mulut ibu.”

Pernyataan ini dibenarkan oleh Abu Yazid sendiri.

Waktu lbunya menyekolahkannya disebuah sekolah, Abu yazid mempelajari Al-Quran.

Suatu hari, gurunya menjelaskan makna salah satu ayat di surah Luqman:

“Bersyukurlah kepada Ku dan kepada kedua orang tuamu.”

Ayat ini menggetarkan hati Abu Yazid.

”Guru,” katanya, seraya meletakkan buku catatannya,

“izinkanlah aku untuk pulang dan mengatakan sesuatu kepada ibuku.”

Gurunya mengizinkannya, dan Abu Yazid pun bergegas pulang.

”Ada apa, Thaifur? mengapa engkau pulang? Apa mereka memberimu hadiah, atau ada acara khusus.”

”Tidak, Pelajaranku telah sampai kepada ayat di mana Allah memerintahkan aku untuk mengabdi kepada Nya dan kepada Ibu. Aku tidak akan sanggup melaksanakan keduanya sekaligus.
Ayat ini menggetarkan hatiku. Hanya ada dua pilihan: lbu memintaku dari Allah agar aku dapat menjadi milik lbu sepenuhnya, atau lbu menyerahkanku kepada Allah agar aku dapat sepenuhnya bersama-Nya.”

Suatu malam, ibuku memintaku untuk mengambilkannya air minum.

Aku bergegas mengambilkan air minum untuknya, namun tak ada air di teko.
Aku pun mengambil kendi, namun kendi ini juga kosong.
Maka aku pun pergi ke sungai dan mengisi kendi dengan air.

Ketika aku kembali ke rumah, ibuku telah tertidur.
Malam itu udara begitu dingin. Aku memegang teko dengan tanganku.
Ketika ibuku terbangun, ia pun minum dan mendoakanku. Lalu ia melihat bahwa teko itu membuat tanganku membeku kedinginan.

"Mengapa tak engkau letakkan saja teko itu?" tanya ibuku.

”Aku takut tatkala lbu terbangun, aku tidak ada di sisi Ibu," jawabku.

Setelah ibunya menyerahkannya kepada Allah, Abu Yazid meninggalkan Bistham dan selama tiga puluh tahun berkelana dari satu daerah ke daerah lain, mendisiplinkan dirinya dengan ibadah dan rasa lapar yang sinambung.

Setelah 30 tahun berkelana,
Pada tengah malam, ia memasuki kota Bistham dan menuju ke rumah ibunya.
Di sana, ia berdiri dan mendengar suara ibunya berwudlu dan berdoa.

"Ya Allah, jagalah orang buangan kita (maksudnya Abu Yazid).
Buatlah hati para syekh (guru spiritual) cenderung padanya, dan berikanlah ia petunjuk agar dapat melakukan segalanya dengan baik.”

Abu Yazid menangis ketika ia mendengar kata-kata ini.

Kemudian ia mengetuk pintu.

”Siapa itu?” pekik ibunya.

”Orang buanganmu,” jawab Abu Yazid.

Sambil menangis, sang ibu membuka pintu.

Pandangan matanya tampak suram.

”Thaifur,” kata sang ibu pada anaknya.
“tahukah engkau apa yang telah menyuramkan pandangan mataku? Tangisan. Aku kerap menangis selama terpisah darimu, dan punggung ibu bungkuk dua kali lipatu karena menanggung beban kesedihan.”



Abdul Ghoni Masyhuri

SAAT IMAM JUNAID DIGODA IBLIS

Pada suatu hari,
Iblis masuk ke rumah Imam Junaid dengan menyamar sebagai salah satu muridnya dan berkata,

"Wahai Waliyullah, aku ingin mengabdi kepadamu tanpa upah, bolehkah?"
(Sebenarnya Imam Junaid sudah tahu bahwa itu adalah iblis).

"Silahkan," jawab Imam Junaid singkat.

Iblis pun akhirnya mengabdi kepada Imam Junaid seperti para murid lainnya.
Ia berusaha melakukan apa saja yang diperintahkan oleh Imam Junaid, namun di balik ketaatannya itu, iblis memiliki siasat jahat,
Ia berharap dapat memasuki hati Imam Junaid.

Dengan sabar, Iblis ini mengabdi kepada Imam Junaid sepuluh tahun lamanya.

Selama sepuluh tahun lamanya iblis menyamar, siasatnya belum juga membuahkan hasil.

Iblis merasa telah gagal menembus hati Imam Junaid yang tak pernah lupa sedikitpun untuk berzikir kepada Allah SWT.

Bukankah iblis tak kuasa menggoda anak Adam yang selalu ingat dan berzikir kepada Allah SWT???

Itulah janji Allah SWT tatkala iblis akan dikeluarkan dari Surga dan dilaknat oleh Yang Maha Perkasa.

Bukan main ketaatan Imam Junaid kepada Allah SWT.

Akhirnya iblis pun menyerah dalam penyamarannya dan memutuskan untuk meninggalkan Imam Junaid.

"Wahai Waliyullah, sesungguhnya aku adalah iblis yang menyamar menjadi salah satu muridmu.
Aku ingin memasuki hatimu, akan tetapi aku tidak dapat melakukannya karena setiap kedip mata, engkau tak pernah lupa berzikir kepada Allah SWT," kata iblis kepada Imam Junaid.

"Aku sudah tahu kalau engkau adalah iblis, makanya aku menjadikanmu pelayan untuk menyiksamu, dan kelak di akhirat nanti kamu tidak akan mendapat pahala dari Allah SWT," tutur Imam Junaid.

Iblis tersentak, bagaimana mungkin Waliyullah seperti Imam Junaid ini mengetahui kalau dia adalah iblis???

Iblis pun berkata lebih lanjut,
"Aku tidak melihat kesombongan dalam hatimu dan itu menjadi sumber kekuatanmu."

"Pergilah kamu wahai iblis laknatullah,
Kamu hanya dapat masuk ke dalam hati manusia yang telah diliputi Takabbur dan Sombong,
Keluar dan pergilah dengan hina engkau iblis," usir Imam Junaid.

Akhirnya iblis pun mengaku kalah.
Ia menghilang dari hadapan Imam Junaid yang terbukti mampu membendung godaannya.



Abdul Ghoni Masyhuri

HANYA TUKANG EMAS YANG AHLI MENILAI EMAS

Seorang pemuda mendatangi Dzun-Nun al-Mishriyy dan bertanya,
“Guru, saya tak mengerti mengapa orang seperti anda mesti berpakaian apa adanya, sangat sederhana.
Bukankah di masa seperti ini, berpakaian sebaik-baiknya amat perlu, bukan hanya untuk penampilan, melainkan juga untuk banyak tujuan lain.”

Sang sufi hanya tersenyum.
Ia lalu melepaskan cincin dari salah satu jarinya, lalu berkata,

"Sobat muda, akan kujawab pertanyaanmu, tetapi lebih dahulu lakukan satu hal untukku.
Ambil-lah cincin ini dan bawalah ke pasar di seberang sana.
Bisakah kamu menjualnya seharga satu keping emas?”

Melihat cincin Dzun-Nun yang kotor,
pemuda tadi merasa ragu,

“Satu keping emas? Saya tidak yakin cincin ini bisa dijual seharga itu".

“Cobalah dulu, sobat muda. Siapa tahu kamu berhasil.”

Pemuda itu pun bergegas ke pasar. Ia menawarkan cincin itu kepada pedagang kain, pedagang sayur, penjual daging dan ikan, serta kepada yang lainnya.
Ternyata tak seorang pun berani membeli seharga satu keping emas. Mereka menawarnya hanya satu keping perak.
Tentu saja, pemuda itu tak berani menjualnya dengan harga satu keping perak.

Ia kembali ke padepokan Dzun-Nun dan melapor,

“Guru, tak seorang pun berani menawar lebih dari satu keping perak."

Dzun-Nun, sambil tetap tersenyum arif, berkata,
“Sekarang, pergilah ke toko emas di belakang jalan ini. Coba perlihatkan kepada pemilik toko atau tukang emas di sana. Jangan buka harga, dengarkan saja bagaimana ia memberikan penilaian.”

Pemuda itu pun pergi ke toko emas yang dimaksud.
Ia kembali kepada Dzun-Nun dengan raut wajah yang lain.
Ia kemudian melapor,

“Guru, ternyata para pedagang di pasar tidak tahu nilai sesungguhnya dari cincin ini. Pedagang emas menawarnya dengan harga seribu keping emas.Rupanya nilai cincin ini seribu kali lebih tinggi daripada yang ditawar oleh para pedagang di pasar.”

Dzun-Nun tersenyum simpul sambil berujar lirih,
"Itulah jawaban atas pertanyaanmu tadi sobat muda. Seseorang tak bisa dinilai dari pakaiannya. Hanya para pedagang sayur, ikan dan daging di pasar, yang menilai demikian.
Namun tidak bagi “pedagang emas”.“Emas dan permata yang ada dalam diri seseorang, hanya bisa dilihat dan dinilai jika kita mampu melihat ke kedalaman jiwa.
Diperlukan kearifan untuk menjenguknya. Dan itu butuh proses, wahai sobat mudaku.
Kita tak bisa menilainya hanya dengan tutur kata dan sikap yang kita dengar dan lihat sekilas.
Seringkali yang disangka emas ternyata loyang dan yang kita lihat sebagai loyang ternyata emas.”



Abdul Ghoni Masyhuri

Rabu, 09 November 2016

SEBIJI KURMA, PENGHALANG DOA

Selesai menunaikan ibadah haji, Ibrahim bin Adham berniat ziarah ke masjidil Aqsa.

Untuk bekal diperjalanan, dia membeli sedikit kurma dari pedagang tua di dekat Masjidil Haram.

Setelah kurma ditimbang dan dibungkus, Ibrahim melihat sebutir kurma terjatuh dekat timbangan.
Menyangka kurma itu sebahagian dari yang dibelinya,
Ibrahim memungut dan memakannya.

Setelah itu, dia terus berangkat menuju Al-Aqsa.

Empat bulan kemudian, Ibrahim tiba di Al-Aqsa.

Seperti biasa, dia suka memilih sebuah tempat beribadah pada sebuah ruangan di bawah kubah Sakhra.

Dia shalat dan berdoa khusuk sekali.
Tiba tiba dia mendengar percakapan dua Malaikat tentang dirinya.

"Itu, Ibrahim bin Adham, ahli ibadah yang zuhud dan wara’ yang doanya selalu dikabulkan ALLAH SWT," kata malaikat yang satu.

"Tetapi sekarang tidak lagi. Doanya ditolak karena 4 bulan yang lalu ia memakan sebutir kurma yang jatuh dari meja seorang pedagang tua di dekat Masjidil Haram", jawab malaikat yang satu lagi.

Ibrahim bin Adham terkejut sekali, ia terhenyak, jadi selama empat bulan ini ibadahnya, solatnya, doanya dan mungkin amalan-amalan lainnya tidak diterima oleh ALLAH SWT gara-gara memakan sebutir kurma yang bukan haknya.

"Astaghfirullahal adzhim", ibrahim beristighfar.

Dia langsung berkemas untuk berangkat lagi ke Mekkah menemui pedagang tua penjual kurma, untuk meminta dihalalkan sebutir kurma yang telah ditelannya.

Sesampainya di Mekkah, dia langsung menuju tempat penjual kurma yang dimaksud, tetapi ia tidak menemui pedagang tua itu melainkan seorang anak muda.

“Empat bulan yang lalu, saya membeli kurma di sini dari seorang pedagang tua. ke mana ia sekarang ?” tanya Ibrahim.

“Sudah meninggal sebulan yang lalu, saya sekarang meneruskan pekerjaannya berdagang kurma” jawab anak muda itu.

“Innalillahi wa innailaihi roji’un, kalau begitu kepada siapa saya meminta penghalalan ?”

Lantas ibrahim menceritakan peristiwa yang dialaminya,
anak muda itu mendengarkan penuh minat.

"Nah, begitulah ceritanya" kata ibrahim setelah bercerita,

"Engkau sebagai ahli waris orangtua itu, maukah engkau menghalalkan sebutir kurma milik ayahmu yang terlanjur ku makan tanpa izinnya?”.

“Bagi saya tidak masalah. Insya ALLAH saya halalkan. Tapi entah dengan saudara-saudara saya yang jumlahnya 11 orang.
Saya tidak berani mengatas namakan mereka karena mereka mempunyai hak waris yang sama dengan saya.” jawab pemuda itu.

“Di mana tempat tinggal saudara-saudaramu ?
biar saya temui mereka satu persatu." pinta Ibrahim.

Setelah menerima alamat, Ibrahim bin Adham pergi menemui,

Biar berjauhan, akhirnya selesai juga. Semua setuju menghalakan sebutir kurma milik ayah mereka yang termakan oleh Ibrahim.

Empat bulan kemudian, Ibrahim bin Adham kembali sudah berada di bawah kubah Sakhra.

Tiba tiba ia mendengar dua Malaikat yang dulu terdengar, lagi bercakap cakap.

“Itulah Ibrahim bin Adham, yang doanya tertolak gara-gara makan sebutir kurma milik orang lain.”

“O, tidak.., sekarang doanya sudah maqbul lagi, ia telah mendapat penghalalan dari ahli waris pemilik kurma itu. Diri dan jiwa Ibrahim, kini telah bersih kembali dari kotoran sebutir kurma yang haram karena masih milik orang lain.
Sekarang ia sudah bebas.”



Abdul Ghoni Masyhuri

NASIHAT SANG HAKIM UNTUK KITA

Dua orang yang mengenakan khirqah kaum sufi sedang caci-mencaci di muka pengadilan.

Hakim melerai mereka dan berkata :
“Tidaklah layak bagi kaum sufi untuk berbantah antara sesama mereka.
Jika kalian mengenakan Jubah sufi mengapa bertengkar?

Jika kalian orang-orang yang suka akan kekerasan, maka buanglah jubah kalian.
Tetapi jika kalian layak memakai jubah itu, berdamailah.

Aku seorang hakim dan bukan orang yang menempuh jalan ruhani, merasa malu karena khirqah itu.

Lebih baik kiranya setuju untuk berbeda pendapat ketimbang bertengkar, Sementara kalian mengenakan khirqah.”

Jika kalian ingin menempuh jalan cinta,
Hilangkanlah segala Prasangka dan Tinggalkan keterikatan pada hal-hal yang bersifat lahiriah.

Sementara itu, agar tak menjadi sumber kejahatan, jangan berikan jalan bagi rasa dendam dan cinta diri!!!



Abdul Ghoni Masyhuri

IKUTILAH PERINTAH GURU, JANGAN MEMBANTAH

Rumi Menceritakan :

Pada hari itu,
Nabi Isa, berpergian di padang pasir yang jaraknya tidak jauh dari Baitul maqdis bersama sekelompok orang yang memiliki Ego tinggi.

Mereka meminta agar Nabi Isa memberitahu doa Rahasia yang sering digunakannya untuk menghidupkan orang yang sudah meninggal.

Nabi Isa :
"Kalau Aku beritahu rahasia itu pada kalian, Aku khawatir kalian akan menyalah gunakannya."

Mereka menerima nasihat itu. Akan tetapi, karena kuatnya Ego, mereka tetap memaksa.

Mereka berkata, :
"Oh Putra Maryam, kami siap untuk ilmu Ilahi seperti itu. Dengan itu, akan menambah kekuatan iman kami."

Setelah mendengar ucapan mereka, Dengan bijak Beliau berkata :
"Kalian sungguh tidak memahami tentang apa yang kalian minta,"

Karena semakin mendesaknya keingingan mereka, akhirnya diberitahukan juga Doa Rahasia itu.

Setelahnya, orang-orang tersebut berpisah dan berjalan ke tempat yang jarang dilalui manusia. Hinga mereka melihat tumpukan tulang yang bersih memutih.

Rasa penasaran akan keampuhan Doa itu, tak bisa dibendung oleh mereka.

"Mari kita uji Doa itu," Ujar salah satu dari mereka,

Dan diucapkanlah Doa itu.
Tak selang lama setelah Doa itu diucapkan, tulang belulang itupun segera terbungkus sebuah daging dan menjelma menjadi seekor binatang yang liar dan lapar.

Kemudian mencakar dan merobek-robek mereka sampai menjadi serpihan daging, dan dimakanlah daging-daging itu.



Abdul Ghoni Masyhuri

MENGISLAMKAN PARA PENDETA

Abu yazid adalah salah satu pemuka kaum sufi di Baghdad pada abad ke III Hijriah

Ia memiliki perjalanan hidup yang mengagumkan dan perilaku yang kadang sulit untuk diterima oleh akal.

Demi cintanya kepada ilmu pengetahuan, ia berkelana dalam waktu yang tidak sebentar untuk menemukan apa yang dicarinya, sehingga ia mengenal seluruh ulama besar dizamannya.

Dalam satu riwayat dikatakan bahwa ia pernah berguru kepada 113 Ulama sebelum akhirnya ia menemukan guru sejatinya yang akhirnya membimbingnya kejalan Thariqat Sufi, yaitu seorang imam yang masyhur dari kalangan ahl-bait yaitu Imam Ja’far Shadiq.

Dalam suatu perjalanannya, Abu Yazid bertemu dengan seorang pendeta dan terjadilah dialog diantara keduanya yang akhirnya membawa pendeta tersebut kepada Islam.

Abu Yazid :
Wahai pendeta, aku mengetahui suatu yang diajarkan Tuhan kepadaku.

Pendeta :
Ceritakanlah kepadaku sesuatu yang berjumlah satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan, sepuluh, sebelas, dan duabelas.

Abu Yazid :
Satu adalah Allah
Dua adalah siang dan malam
Tiga adalah hitungan talaq
Empat adalah Taurat,Zabur,Injil,dan Alqur’an
Lima adalah rukun syariah
Enam adalah jumlah hari penciptaan langit dan bumi
Tujuh adalah jumlah langit dan bumi,
Delapan adalah Malaikat penjaga Arsy pada hari qiyamah
Sembilan adalah masa wanita mengandung
Sepuluh adalah al-Malaikat al-Kiram al-Bararah
Sebelas adalah jumlah saudara yusuf, dan
Dua belas adalah jumlah bulan.

Pendeta :
Tuan betul,
Sekarang ceritakan kepadaku tentang
Yang tercipta dari udara
Yang dijaga udara dan Yang dirusak oleh udara ???
Abu Yazid :
Yang tercipta dari udara adalah Nabi Isa
Yang dijaga udara yaitu Nabi Sulaiman, dan
Yang dirusak udara adalah Kaum ’Ad.

Abu Yazid :
Sekarang ijinkan saya untuk mengajukan satu pertanyaan saja.
Dapatkah kau menceritakan kepadaku tentang kunci surga dan tulisan yang terdapat dipintu surga andaikan kau meyakini bahwa engkau dan kaummu itu pasti masuk surga.

Pendeta : Terdiam

Para pendeta :
Apakah tuan kalah?

Pendeta :
Tidak

Para Pendeta :
Lalu mengapa engkau tidak menjawab?

Pendeta :
Jika aku menjawabnya aku takut kalian membunuhku.

Para pendeta :
Demi Injil, kami tidak akan membunuhmu

Pendeta :
Baiklah, aku akan menjawabnya.
Sesungguhnya kunci surga dan yang tertulis dipintu surga itu adalah
LAA ILLAAHA ILLALLAH MUHAMMADURASULULLAH

Para pendeta :
Mendengar jawaban itu, mereka bersama-sama mengucapkan dua kalimat syahadat

Pendeta :
Al-Hamdulillah,
Kalian telah menjadi muslimin dan sebenarnya akupun sudah menjadi muslim sejak 60 tahun yang lalu,
hanya saja aku menyembunyikannya karena takut pada kalian

Maka, setelah terjadinya dialog tersebut lalu mereka bersama-sama mengubah gereja tempat mereka berdialog itu menjadi sebuah bangunan Masjid
dan Abu Yazid ditunjuk sebagai gurunya.



Abdul Ghoni Masyhuri

Selasa, 08 November 2016

DAHSYATNYA BISMILLAAHIRRAHMAANIRRAHIIM

Di sebuah kota besar bernama Merv,
Hiduplah seorang pemuda yang begitu mencintai kemewahan dunia.
Setiap hari, yang ia lakukan adalah bersenang-senang dengan berbagai cara.

Jika sudah bosan dengan cara yang satu, ia akan mencari cara lain.
Ia tidak peduli dengan apapun yang terjadi di sekitar tempat tinggalnya tersebut. Juga, tidak peduli dengan segala aturan dan hukum yang berlaku di sana.
Baginya, yang terpenting adalah bisa merasa senang.

Hingga suatu hari, kala Bisyr mengadakan perjalanan menuju tempat pesta, ia bertemu dengan seorang bijak.

Wahai saudaraku, aku ingin menyampaikan pesan untukmu," ucap seorang bijak yang ternyata ahli sufi, setelah mengucap salam.

"Pesan dari siapa?" tanya Bisyr tanpa berbasa basi.

"Pesan dari Allah," jawab si sufi.

"Ah, apakah aku akan segera mati?" serbunya dengan tanya.

"Allah memerintahkanku, agar segera mengislamkanmu," jawab sufi dengan sangat tenang.

"Ada begitu banyak orang yang bernama Bisyr di kota ini. Ada yang Yahudi, Kristen, dan ada juga yang lainnya.
Dan, namaku juga Bisyr. Lantas, mengapa hanya Bisyr-ku yang menerima anugerah islam? Sedangkan Bisyr Bisyr yang lain tidak mendapat anugerah yang begitu besar?" selidik Bisyr.

"Anugerah bisa datang kepada siapa saja. Pada Bisyr-mu atau Bisyr Bisyr yang lain. Namun, begitulah Allah ketika berkehendak. Dia akan mengundang siapa saja untuk memasuki istana-Nya (Islam)," ucap sang bijak.

"Kau masih ingat peristiwa beberapa bulan lalu, wahai Anak Muda? saat kau menyelamatkan secarik kertas berlafadz Bismillaahirrahmaanirrahiim?" lanjutnya.

Bisyr mengerutkan dahi, bertanda sedang berpikir,
"Ya, aku masih ingat.
Lantas apa hubungannya dengan anugerah keislamanku?"

"Kau apakan kertas itu?" tanya sufi, tanpa menjawab pertanyaan si pemuda.

"Aku menyimpannya dengan baik-baik di bawah bantalku, dan setiap malam sebelum tidur, aku membacanya secara berulang-ulang hingga akhirnya kantuk itu menyerangku tanpa aku tahu apa maksud kalimat itu." Jawab Bisyr.

Guru bijak itu tersenyum, lalu berkata,
"Itulah yang Allah karuniakan untukmu, Anak Muda.
Awalnya aku mengira bahwa kamu tidak lebih dari seorang pemuda yang gemar melakukan maksiat, namun ternyata kau mampu mengagungkan-Nya melebihi para ahli ibadah.
Allah mengundangmu sebagai tamu-Nya melalui Islam."

Mendengar ungkapan itu, Bisyr pun langsung tersungkur.
Ia menangis sembari dituntun mengucap syahadat.
Ia bersyukur karena mendapat kesempatan untuk memeluk Islam sebelum ajal menjemputnya.



Abdul Ghoni Masyhuri

KEJUJURAN IMAM HANAFI

Selepas Shalat Shubuh,
Imam Hanafi bersiap membuka tokonya, di pusat Kota Kufah.

Diperiksanya dengan cermat pakaian dan kain yang akan dijua, sewaktu menemukan pakaian yang cacat, ia segera menyisihkannya dan meletakkannya ditempat yang terbuka. supaya kalau ada yang akan membeli, ia dapat memperlihatkannya.

Ketika hari mulai siang,
banyak pengunjung yang datang ke tokonya untuk membeli barang dagangannya.
Tapi, ada juga yang hanya memilih-milih saja.

"Mari silahkan, dilihat dulu barangnya. Mungkin ada yang disukai," kata Imam Hanafi seraya tersenyum ramah.

Seorang pengunjung tertarik pada pakaian yang tergantung di pojok kiri.

"Bolehkah aku melihat pakaian itu?" tanya perempuan itu.

Imam Hanafi segera mengambilkannya.

"Berapa harganya?" tanyanya sambil memandangi pakaian itu.

"Pakaian ini memang bagus. Tapi, ada sedikit cacat di bagian lengannya".
Imam Hanafi memperlihatkan cacat yang hampir tak tampak pada pakaian itu.

"Sayang sekali." perempuan itu tampak kecewa.
"Kenapa Tuan menjual pakaian yang ada cacatnya?"

"Kain ini sangat bagus dan sedang digemari. Walaupun demikian karena ada cacat sedikit harus saya perlihatkan. Untuk itu saya menjualnya separuh harga saja."

"Aku tak jadi membelinya. Akan kucari yang lain," katanya.

"Tidak apa-apa, terima kasih," sahut Imam Hanafi tetap tersenyum.

Dalam hati, perempuan itu memuji kejujuran pedagang itu. Tidak banyak pedagang sejujur dia. Mereka sering menyembunyikan kecacatan barang dagangannya.

Sementara itu, ada seorang perempuan tua yang sejak tadi memperhatikan sebuah baju di rak.
Berulang-ulang dipegangnya baju itu. Lalu diletakkan kembali.

Imam Hanafi lalu menghampirinya.
"Silakan, baju itu bahannya halus sekali. Harganya pun tak begitu mahal."

"Memang, saya pun sangat menyukainya, tapi saya tidak mampu membelinya. Saya ini orang miskin". jawab orang itu sambil meletakkan baju di rak dan wajahnya kelihatan sedih.

Imam Hanafi merasa iba.
Orang itu begitu menyukai baju ini, "Saya akan menghadiahkannya untuk ibu," kata Imam Hanafi.

"Benarkah? Apa tuan tidak akan rugi?"

"Alhamdulillah, Allah sudah memberi saya rezeki yang lebih."

Lalu, Imam Hanafi membungkus baju itu dan memberikannya pada orang tersebut.

"Terima kasih, Anda sungguh dermawan. Semoga Allah memberkahi"
Tak henti-hentinya orang miskin itu berterima kasih.

Menjelang tengah hari, Imam Hanafi bersiap akan mengajar.
Selain berdagang, ia mempunyai majelis pengajian yang selalu ramai dipenuhi orang-orang yang menuntut ilmu.
Ia lalu menitipkan tokonya pada seorang sahabatnya yang sesama pedagang.

Sebelum pergi, Imam Hanafi berpesan pada sahabatnya agar mengingatkan pada pembeli kain yang ada cacatnya itu.

"Perlihatkan pada pembeli bahwa pakaian ini ada cacat di bagian lengannya. Berikan separo harga saja," kata Imam Hanafi.

Sahabatnya mengangguk.
Imam Hanafi pun berangkat ke majelis pengajian.

Sesudah hari gelap, ia baru kembali ke tokonya.

"Hanafi, hari ini cukup banyak yang mengunjungi tokomu.
O, iya! Pakaian yang itu juga sudah dibeli orang," kata sahabatnya sambil menunjuk tempat pakaian yang ada cacatnya.

"Apa kau perlihatkan kalau pada bagian lengannya ada sedikit cacat?" tanya Hanafi.

"Masya Allah aku lupa memberitahunya. Pakaian itu sudah dibelinya dengan harga penuh."
Sahabatnya sangat menyesal.

Imam Hanafi menanyakan ciri-ciri orang yang membeli pakaian itu. Dan ia pun bergegas mencarinya untuk mengembalikan sebagian uangnya.

"Ya Allah! Aku sudah menzhaliminya, " ucap Imam Hanafi.

Sampai larut malam, Imam Hanafi mencari orang itu kesana-kemari. Tapi tak berhasil ditemui. Imam Hanafi amat sedih.

Di pinggir jalan, tampak seorang pengemis tua dan miskin duduk seorang diri.
Tanpa berpikir panjang lagi, ia sedekahkan uang penjualan pakaian yang sedikit cacat itu semuanya.

"Kuniatkan sedekah ini dan pahalanya untuk orang yang membeli pakaian bercacat itu," ucap Imam Hanafi.

Ia merasa tidak berhak terhadap uang hasil penjualan pakaian itu.

Semenjak kejadian itu, Imam Hanafi berjanji tidak akan menitipkan lagi tokonya pada orang lain.



Abdul Ghoni Masyhuri

PELAJARAN SANG GURU UNTUK RUMI

Suatu malam,
Jalaluddin Rumi mengundang Syams Tabrizi ke rumahnya.
Sang Mursyid Syamsuddin pun menerima undangan itu dan datang ke kediaman Rumi.

Setelah semua hidangan makan malam siap, Syams berkata pada Rumi:

“Apakah kau bisa menyediakan minuman untukku?”. (yang dimaksud : arak / khamr)

Rumi kaget mendengarnya,
“memangnya anda juga minum?’

“Iya”, jawab Syams.

Rumi masih terkejut,
"maaf, saya tidak mengetahui hal ini”

“Sekarang kau sudah tahu. Maka sediakanlah”.

“Di waktu malam seperti ini, dari mana aku bisa mendapatkan arak?"

“Perintahkan salah satu pembantumu untuk membelinya”.

“Kehormatanku di hadapan para pembantuku akan hilang”

“Kalau begitu, kau sendiri pergilah keluar untuk membeli minuman”

“Seluruh kota mengenalku. Bagaimana bisa aku keluar membeli minuman?”

“Kalau kau memang muridku, kau harus menyediakan apa yang aku inginkan.
Tanpa minum, malam ini aku tidak akan makan, tidak akan berbincang, dan tidak bisa tidur”

Karena kecintaan pada Syams,
Akhirnya Rumi memakai jubahnya, menyembunyikan botol di balik jubah itu dan berjalan ke arah pemukiman kaum Nasrani.

Sebelum ia masuk ke pemukiman tersebut, tidak ada yang berpikir macam-macam terhadapnya,
namun begitu ia masuk ke pemukiman kaum Nasrani, beberapa orang terkejut dan akhirnya menguntitnya dari belakang.

Mereka melihat Rumi masuk ke sebuah kedai arak. Ia terlihat mengisikan botol minuman, kemudian ia sembunyikan lagi di balik jubah lalu keluar.

Setelah itu ia diikuti terus oleh orang-orang yang jumlahnya bertambah banyak.

Hingga sampailah Rumi di depan masjid, tempat ia menjadi imam bagi masyarakat kota.

Tiba-tiba salah seorang yang mengikutinya tadi berteriak:
“Ya ayyuhan naas, Syeikh Jalaluddin yang setiap hari jadi imam shalat kalian, baru saja pergi ke perkampungan Nasrani dan membeli minuman!!!”

Orang itu berkata begitu sambil menyingkap jubah Rumi.
Khalayak melihat botol yang dipegang Rumi.

“Orang yang mengaku ahli zuhud, dan kalian menjadi pengikutnya ini, membeli arak dan akan dibawa pulang!!!”,
Orang itu menambahi siarannya.

Orang-orang bergantian meludahi muka Rumi dan memukulinya hingga serban yang ada di kepalanya lengser ke leher.

Melihat Rumi yang hanya diam saja tanpa melakukan pembelaan, orang-orang semakin yakin bahwa selama ini mereka ditipu oleh kebohongan Rumi tentang zuhud dan takwa yang diajarkannya.

Mereka tidak kasihan lagi untuk terus menghajar Rumi hingga ada juga yang berniat membunuhnya.

Tiba-tiba terdengarlah suara Syams Tabrizi:
“Wahai orang-orang tak tahu malu. Kalian telah menuduh seorang alim dan faqih dengan tuduhan minum khamr, ketahuilah bahwa yang ada di botol itu adalah cuka untuk bahan masakan".

Seseorang dari mereka masih mengelak.

“Ini bukan cuka, ini arak”.

Syams mengambil botol dan membuka tutupnya.
Dia meneteskan isi botol di tangan orang-orang agar menciumnya.
Mereka terkejut karena yang ada di botol itu memang cuka.
Mereka memukuli kepala mereka sendiri dan bersimpuh di kaki Rumi.
Mereka berdesakan untuk meminta maaf dan menciumi tangan Rumi hingga pelan-pelan mereka pergi satu demi satu.
Rumi berkata pada Syams,
“Malam ini kau membuatku terjerumus dalam masalah besar sampai aku harus menodai kehormatan dan nama baikku sendiri. Apa maksud semua ini?”.

“Agar kau mengerti bahwa Wibawa yang kau banggakan ini hanya khayalan semata.

Kau pikir penghormatan orang-orang awam seperti mereka ini sesuatu yang abadi?

Padahal kau lihat sendiri, hanya karena dugaan satu botol minuman saja, semua penghormatan itu sirna dan mereka meludahimu, memukuli kepalamu dan hampir saja membunuhmu.

Inilah kebanggaan yang selama ini kau perjuangkan dan akhirnya lenyap dalam sesaat.

Maka bersandarlah pada yang tidak tergoyahkan oleh waktu dan tidak terpatahkan oleh perubahan zaman

Bersandarlah hanya kepada Allah SWT".



Abdul Ghoni Masyhuri

Senin, 07 November 2016

MEMULIAKAN TETANGGA

Kekaguman para sahabat dan murid-muridnya, tak menggetarkan pribadi Hasan al-Bashri untuk tetap hidup penuh kesederhanaan.

Di rumah susun yang tidak terlalu besar, ia tinggal bersama istri tercinta.

Di bagian atas adalah tempat tinggal seorang Nasrani.

Kehidupan berumah tangga dan bertetangga, mengalir tenang dan harmonis, meski diliputi kekurangan menurut ukuran duniawi.

Di kamar Hasan al-Bashri, selalu terlihat ember kecil penampung tetesan air dari atap kamarnya.

Istrinya memang sengaja memasangnya atas permintaan Hasan al-Bashri agar tetesan tak meluber.

Hasan al-Bashri rutin mengganti ember itu tiap kali penuh dan sesekali mengelap sisa percikan yang sempat membasahi sekitarnya.

Hasan al-Bashri tak pernah berniat memperbaiki atap itu.

“Kita tak boleh mengusik tetangga,” dalihnya.

Jika dirunut, atap kamar Hasan al-Bashri tak lain adalah kamar mandinya seorang Nasrani, tetangganya.

Karena ada kerusakan, air kencing dan kotoran merembes ke dalam kamar Sang Imam tanpa mengikuti saluran yang tersedia.

Tetangga Nasrani itu tak bereaksi apa-apa tentang kejadian ini, karena Hasan al-Bashri sendiri belum pernah mengabarinya.

Hingga suatu ketika si tetangga menjenguk Hasan al-Bashri yang tengah sakit dan menyaksikan sendiri cairan najis kamar mandinya menimpa ruangan Hasan Al-Bashri.

“Imam, Sejak kapan engkau bersabar dengan semua ini,” kata tetangga Nasrani tampak menyesal.

Hasan al-Bashri hanya terdiam memandang, sambil melempar senyum pendek.
Merasa tak ada jawaban, tetangga Nasrani pun setengah mendesak.

"Tolong katakan dengan jujur, wahai Imam. Ini demi melegakan hati kami.”

Dengan suara berat, Hasan al-Bashri pun menimpali,
“Dua puluh tahun yang lalu.”

“Lantas mengapa engkau tidak memberitahuku?”

“Memuliakan tetangga adalah hal yang wajib.
Nabi kami mengajarkan, ‘Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka muliakanlah tetangga’.
Anda adalah tetangga saya,” tukasnya lirih.

Tetangga Nasrani itu seketika mengucapkan dua kalimat syahadat.



Abdul Ghoni Masyhuri

ANJING ITU LEBIH MULIA DARIKU

Ketika musim hujan,

Syaikh Abdurrahman bin Said (Seorang faqih dan Wali Besar di Zamannya) melewati suatu jalan yang becek dan berlumpur.

Saat itu juga, dari kejauhan tampak seekor anjing yang sedang melintas dari arah yang berlawanan.

Syaikh Abdurrahman mencoba menghindari anjing itu dengan menepi ke pinggir jalan.
Anehnya, ketika anjing itu sudah mendekat, beliau malah berpindah ke jalan yang becek dan membiarkan anjing itu melewati jalan ''bersih'' yang ia pijaki.

Salah satu muridnya yang menyaksikan kejadian itu lantas mendatanginya, Syaikh Abdurrahman tampak sedih dan termenung, si murid lalu bertanya:

Ya Syaikh.. aku bingung melihat apa yang Syaikh lakukan, mengapa engkau malah berpindah ke jalan yang kotor dan membiarkan anjing itu lewat di jalan yg bersih.???

Beliau lalu menjawab :
"Awalnya.. aku memang ingin membiarkan anjing itu lewat di jalan yang kotor, lantas aku berfikir dan mengatakan dalam hati :
"Bukankah anjing itu lebih mulia dariku?
Bukankah ia lebih baik dariku?
Aku punya banyak dosa dan maksiat sedangkan anjing itu tak punya dosa sama sekali, kalau begitu ia lebih pantas dimuliakan dari pada diriku yang hina ini,

Sekarang aku takut Allah tidak akan mengampuniku karena aku telah merendahkan mahluk-Nya yg lebih mulia dariku''

Kawanku......
Mereka para Awliya' Allah, selalu meyakini bahwa mereka adalah mahluk paling hina yang pernah ada, padahal di sisi Allah, mereka begitu mulia dan berharga bagaikan emas dan permata.



Abdul Ghoni Masyhuri

KASIH SAYANGLAH PADA MAKHLUK-NYA

Dalam kitab Nashaih Al Ibad Karya Syeikh Imam Nawawi Al-Bantani dikisahkan,

Setelah sekian lama Imam As-Syibli wafat, ada seorang temannya yang memimpikannya.
Dalam mimpinya itu, Imam As-Syibli nampak mendapatkan ni'mat kubur.

“Wahai Imam As-Syibli, apa yang diperbuat Allah kepadamu?” tanya temannya.

“Allah telah menempatkanku di tempat yang mulia,” jawab Imam As-Syibli.

“Tolong beritahu aku, amal apa yang engkau perbuat sehingga mendapatkan kemuliaan itu?” pinta temannya.

Imam As-Syibli pun bercerita bahwa dirinya pernah ditanya Allah tentang amal yang membuat ampunan datang kepadanya.

Imam As-Syibli menjawab kalau dirinya telah melakukan amal baik dan ikhlas dalam beribadah.
Akan tetapi, jawaban itu ditolak oleh Allah.
Imam As-Syibli pun langsung menjawab amal lainnya.
“Mungkin karena ibadah hajiku, puasaku, dan shalatku,” kata Imam As-Syibli.

Namun, lagi-lagi penyataan itu ditolak.

As-Syibli lantas mencoba mengingat-ingat amal baik lainnya semasa hidupnya.

“Atau mungkin karena kelanggenganku dalam mencari ilmu,” tebaknya.

Pernyataan itu kembali ditolak hingga akhirnya Imam As-Syibli menyerah. Ia kemudian berkata,

“Ya Rabbi, semua itu adalah amalanku yang karenanya aku harap Engkau memaafkanku.”

“Semua itu tidaklah membuat-Ku mau mengampunimu.”

Imam As-Syibli lantas bertanya,
“Lalu, karena apa Engkau berkenan mengampuniku?”

Allah SWT  berkata :
“Ingatkah engkau, ketika engkau berjalan di pinggiran kota Baghdad, engkau menemukan seekor anak kucing yang sedang kedinginan dan merapatkan tubuhnya ke sebuah tembok.

Kemudian karena merasa kasihan, engkau mengambil anak kucing itu dan memasukkannya ke dalam saku jubahmu agar ia terjaga dari kedinginan?”

“Iya”, jawab Imam As-Sybli.

Kemudian Allah SWT berkata :
“Karena RASA KASIHMU pada anak kucing itulah Aku berkenan mengampunimu.”

Imam As-Syibli bersyukur telah mendapatkan ampunan Allah.
Ia sendiri tak menyangka jika amal menolong kucing itulah yang mengantarkannya mendapatkan kemuliaan dari Allah Subhanahu Wata’ala…

Wallahu a’lam bisshawab.


Abdul Ghoni Masyhuri


JAGALAH PRASANGKA

Hasan al-Basri, suatu ketika menemui seorang pemuda yang sedang berduaan dengan seorang wanita ditepi sungai Dajlah, sementara di sisi mereka terdapat sebuah botol arak.
Lalu Hasan berbisik dalam hati:
"Alangkah jahatnya orang itu dan alangkah baiknya kalau dia seperti aku!"
Tiba-tiba Hasan melihat sebuah perahu di tepi sungai yang sedang tenggelam.
Lelaki yang sedang duduk di tepi sungai tadi segera terjun untuk menolong penumpang perahu yang tenggelam.
Enam dari tujuh penumpang itu berhasil diselamatkan.
Kemudian dia berpaling ke arah Hasan al-Basri dan berkata:
"Jika engkau memang lebih mulia daripada saya, maka dengan nama Allah, selamatkanlah satu orang lagi yang belum sempat saya tolong.
Engkau diminta untuk menyelamatkan satu orang saja, sedang saya sudah menyelamatkan enam orang."
Bagaimanapun, Hasan al-Basri gagal menyelamatkan satu orang itu.
Maka lelaki itu bertanya padanya.
"Tuan, sebenarnya wanita yang duduk di samping saya ini adalah ibu saya, sedangkan botol itu hanya berisi air biasa, bukan arak. Ini hanya untuk menguji tuan."
Hasan al-Basri pun tertegun lalu berkata:
"Kalau begitu, sebagaimana engkau telah menyelamatkan enam orang tadi dari bahaya tenggelam ke dalam sungai, maka selamatkanlah saya dari tenggelam dalam kebanggaan dan kesombongan."
Orang itu menjawab:
"Mudah-mudahan Allah mengabulkan permohonan tuan."
Semenjak itu, Hasan al-Basri selalu merendahkan diri bahkan ia menganggap dirinya sebagai makhluk yang tidak lebih dari orang lain.


Posted via Blogaway