Hasan al-Bashri adalah salah satu tokoh sentral spiritual pada masanya. Ia merupakan salah satu Tabi'in yang di bai'at (talqin) langsung oleh Sayyidina Ali KarramAllahu wajhah.
Pada zamannya, terdapat beberapa Majelis Ta'lim, namun berbeda fan (sesuai bidangnya masing-masing).
Ada Majelis Tarikh, Majelis Fiqh, Majelis Ubudiyah, Majelis Hukum dan lain-lain.
Suatu ketika, Tempat yang penuh dengan majelis-majelis itu kedatangan Sayyidina Ali KarramAllahu Wajhah.
masing-masing Pengasuh Majelis itu diberikan pertanyaan satu persatu oleh Sayyidina Ali.
Semuanya tak ada yang bisa menjawab, Akhirnya Sayyidina Ali mengusir para pengasuh itu, "Keluar kamu, Kamu masih belum Layak menjadi Pengasuh Majelis".
semua keluar, dan tinggal satu Pengasuh yang belum mendapat pertanyaan. ia seorang Pemuda, namun sudah berani untuk menjadi seorang Pengasuh.
namun, Sayyidina Ali sudah tahu akan isi hati Pemuda itu, ia adalah Hasan al-Bahsri.
Sayyidina Ali KarramAllahu Wajhah melihat hati Hasan al-Bashri terdapat dua kelebihan,
- Memang ada pada pribadi Hasan al-Bashri tanda-tanda orang shaleh.
- Ada tanda-tanda Ahli memberikan Petunjuk.
Lalu Sayyidina Ali berkata : "Anak Muda, Kamu ini masih sangat muda, berani-beraninya menjadi pengasuh Majelis Ta'lim, saya akan mengujimu. Jika kamu tidak bisa menjawab pertanyaanku, akan saya usir sebagaimana teman-temanmu, Namun jika kamu bisa menjawab, Teruskan untuk menjadi Pengasuh Majelis Ta'lim ini".
Hasan al-Bashri menjawab: "Tanyalah apa yang hendak engkau pertanyakan wahai Khalifah Rasulillah"
Sayyidina Ali: "Pertama, Apakah yang mampu mendukung Agama (diri sendiri dan orang lain)?".
Hasan al-Bashri: "al-Wara', Dengan sifat wira'i, orang akan menjadi Qiblat (Panutan) ummat, dan dengan wira'i agama pasti akan berkembang kalau pemimpinnya menjadi Panutan".
Sayyidina Ali: "Kedua, Apa yang merusak agama?"
Hasan al-Bashri: "Tamak, karena tamak akan menghilangkan sifat Malu, jika sifat malu sudah hilang, maka orang itu tidak bisa jadi Panutan (Merusak Agama)"