Salah satu Karomah Imam Syibli adalah, Allah berikan kemampuan untuk berbicara dengan pepohonan.
Pada suatu hari,
Imam Syibli sedang berada di kebunnya yang subur.
Ketika sedang asyik bekerja di kebun itu, tiba-tiba saja terdengar suara yang memanggilnya.
"Syibli...!!! Syibli...!!!"
Imam Syibli segera menghentikan pekerjaannya dan mencari-cari siapa gerangan yang memanggil-manggil namanya.
Ternyata, suara itu datang dari sebuah pohon mangga.
"Ada keperluan apa engkau memanggilku?" tanya Imam Syibli.
"Jadilah makhluk yang memiliki sifat sepertiku," jawab pohon mangga itu.
"Apa maksudmu..." tanya Imam Syibli yang tak mengerti.
"Jika aku dilempari orang dengan batu, aku balas orang itu dengan buahku yang lezat," tutur phon mangga itu.
"Oh...engkau memang baik hati,
Tapi mengapa nasibmu tidak baik pada akhirnya?" tanya Iman Syibli.
Kini, ganti pohon mangga itu yang
keheranan, dan tidak mengerti.
"Apa maksudmu Syibli?" tanya pohon mangga.
"Kalau engkau sudah tidak ada gunanya lagi, sudah tua, batangmu akan ditebang.
Daun-daunmu akan digunduli dan engkau akan menjadi mangsa api sebagai kayu bakar," kata Imam Syibli.
"Itulah nasibku," kata pohon mangga.
"Jadi mana yang lebih baik, nasibmu atau nasib pohon cemara yang di sana?" tanya Imam Syibli.
"Inilah kebangganku, memang pohon cemara di sana bisa selamat dengan cara begitu, akan tetapi kalau sudah tua nanti akan roboh begitu saja dan tidak ada yang mengambil batangnya untuk dibuat kayu bakar, apalagi arang.
Sedangkan aku, meskipun pada akhirnya aku akan hancur dan dimakan api, tapi dengan cara terhormat.
Karena manusia tidak akan sembarangan membakarku jika tidak untuk keperluan yang jelas seperti untuk memasak dan sebagainya,"
Jadi, aku ini masih ada gunanya sampai pada akhir hidupku,
Abu bekas pembakaranku juga masih diperlukan orang untuk menggosok perabotan rumah tangga, dan abuku terkenal mahal serta dapat membuat barang-barang logam menjadi bersih dan mengkilap.
Jadi, nasibku lebih baik dari pada pohon cemara," tutur pohon mangga.
Imam Syibli mengangguk-anggukkan kepalanya, ia menyetujui pendapat pohon mangga.
Maksud Kisah ini adalah :
Lebih baik mati terhormat dari pada menjual harga diri dengan bersikap munafik yang bersedia mengikuti arus, kemanapun angin bertiup dia pun mengikutinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar