Selasa, 08 November 2016

DAHSYATNYA BISMILLAAHIRRAHMAANIRRAHIIM

Di sebuah kota besar bernama Merv,
Hiduplah seorang pemuda yang begitu mencintai kemewahan dunia.
Setiap hari, yang ia lakukan adalah bersenang-senang dengan berbagai cara.

Jika sudah bosan dengan cara yang satu, ia akan mencari cara lain.
Ia tidak peduli dengan apapun yang terjadi di sekitar tempat tinggalnya tersebut. Juga, tidak peduli dengan segala aturan dan hukum yang berlaku di sana.
Baginya, yang terpenting adalah bisa merasa senang.

Hingga suatu hari, kala Bisyr mengadakan perjalanan menuju tempat pesta, ia bertemu dengan seorang bijak.

Wahai saudaraku, aku ingin menyampaikan pesan untukmu," ucap seorang bijak yang ternyata ahli sufi, setelah mengucap salam.

"Pesan dari siapa?" tanya Bisyr tanpa berbasa basi.

"Pesan dari Allah," jawab si sufi.

"Ah, apakah aku akan segera mati?" serbunya dengan tanya.

"Allah memerintahkanku, agar segera mengislamkanmu," jawab sufi dengan sangat tenang.

"Ada begitu banyak orang yang bernama Bisyr di kota ini. Ada yang Yahudi, Kristen, dan ada juga yang lainnya.
Dan, namaku juga Bisyr. Lantas, mengapa hanya Bisyr-ku yang menerima anugerah islam? Sedangkan Bisyr Bisyr yang lain tidak mendapat anugerah yang begitu besar?" selidik Bisyr.

"Anugerah bisa datang kepada siapa saja. Pada Bisyr-mu atau Bisyr Bisyr yang lain. Namun, begitulah Allah ketika berkehendak. Dia akan mengundang siapa saja untuk memasuki istana-Nya (Islam)," ucap sang bijak.

"Kau masih ingat peristiwa beberapa bulan lalu, wahai Anak Muda? saat kau menyelamatkan secarik kertas berlafadz Bismillaahirrahmaanirrahiim?" lanjutnya.

Bisyr mengerutkan dahi, bertanda sedang berpikir,
"Ya, aku masih ingat.
Lantas apa hubungannya dengan anugerah keislamanku?"

"Kau apakan kertas itu?" tanya sufi, tanpa menjawab pertanyaan si pemuda.

"Aku menyimpannya dengan baik-baik di bawah bantalku, dan setiap malam sebelum tidur, aku membacanya secara berulang-ulang hingga akhirnya kantuk itu menyerangku tanpa aku tahu apa maksud kalimat itu." Jawab Bisyr.

Guru bijak itu tersenyum, lalu berkata,
"Itulah yang Allah karuniakan untukmu, Anak Muda.
Awalnya aku mengira bahwa kamu tidak lebih dari seorang pemuda yang gemar melakukan maksiat, namun ternyata kau mampu mengagungkan-Nya melebihi para ahli ibadah.
Allah mengundangmu sebagai tamu-Nya melalui Islam."

Mendengar ungkapan itu, Bisyr pun langsung tersungkur.
Ia menangis sembari dituntun mengucap syahadat.
Ia bersyukur karena mendapat kesempatan untuk memeluk Islam sebelum ajal menjemputnya.



Abdul Ghoni Masyhuri

Tidak ada komentar:

Posting Komentar